<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom">
		<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/gateway/plugin/WebFeedGatewayPlugin/atom</id>
	<title>Societas Dei: Jurnal Agama dan Masyarakat</title>

	<updated>2026-03-19T14:41:16+07:00</updated>

				<author>
			<name>Redaksi</name>
						<email>societas.dei@rcrs.org</email>
					</author>
	
	<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id" />
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/gateway/plugin/WebFeedGatewayPlugin/atom" />

	
		
	<generator uri="https://pkp.sfu.ca/ojs/" version="3.5.0.4">Open Journal Systems</generator>
				
	<subtitle type="html">&lt;p&gt;&lt;em&gt;Societas Dei: Jurnal Agama dan Masyarakat&lt;/em&gt; merupakan jurnal nasional yang dapat menjadi sumber informasi ilmiah bagi para peneliti di dunia akademik, lembaga penelitian, dan instansi pemerintah. Hasil peneltiian dari berbagai perspektif penulis dengan latar belakang agama yang berbeda memiliki tujuan yang sama yaitu untuk menyebarluaskan nilai-nilai agama yang dapat bersumbangsih bagi terciptanya kehidupan beragama yang harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit jurnal ini adalah &lt;a title=&quot;RCRS&quot; href=&quot;http://reformed-crs.org/&quot; target=&quot;_blank&quot; rel=&quot;noopener&quot;&gt;Pusat Pengkajian Reformed Bagi Agama dan Masyarakat&lt;/a&gt; (RCRS) dan secara rutin menerbitkan dua kali setahun, pada bulan April dan Oktober, dengan jumlah edisi setiap artikel minimal lima artikel. Edisi pertama diterbitkan pada April 2014. Sejak Volume 4 Nomor 2 Tahun 2017, jurnal telah terakreditasi secara nasional oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, No. 30/E/KPT/2019 (11 November 2019). Pada Volume 8 Nomor 2 Tahun 2021, jurnal telah reakreditasi SINTA 3 hingga Volume 13 Nomor 1 2026 berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Nomor 105/E/KPT/2022.&lt;/p&gt;</subtitle>

							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/563</id>
			<title>Kritis, Objektif, dan Emansipasitoris</title>
			<updated>2026-06-15T13:55:29+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Yohanes Hasiholan Tampubolon</name>
				</author>
							<author>
					<name>Dody Truna</name>
				</author>
							<author>
					<name>Rifki Rosyad</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/563" />

							<summary type="html" xml:base="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/563">
										&lt;p&gt;Artikel ini dilatarbelakangi keterlibatan nilai dalam studi agama. Apakah studi agama harus bebas nilai seperti dikemukakan McCutcheon atau tidak dapat bebas nilai sebagaimana dinyatakan Goldstein? Penelitian ini berangkat dari persoalan tersebut dan bertujuan melihat realisme kritis Roy Bhaskar menawarkan jalan tengah bagi studi agama. Dengan menggunakan metode analisis kepustakaan kualitatif, penelitian ini mengkaji karya-karya Bhaskar dan literatur studi kritis tentang agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengungkapan konteks kolonialisme, patriarki, atau hierarki kelas dalam kelahiran suatu ajaran bukanlah tindakan moral atau politis, tetapi konsekuensi ilmiah dari penelusuran ilmiah. Dalam kerangka pemikiran Bhaskarian, objektivitas tidak berarti bebas nilai, tetapi merupakan proses epistemik untuk menyingkap mekanisme real yang tersembunyi di balik fenomena keagamaan. Dengan demikian, kritik terhadap agama tidak bersifat moralistik, melainkan bagian dari objektivitas ilmiah. Penelitian ini juga menemukan bahwa dimensi emansipatoris dalam studi agama muncul secara inheren dari keberhasilan analisis ilmiah. Ketika mekanisme penindasan, relasi kuasa, atau struktur ideologis berhasil diungkap maka pengetahuan tersebut secara otomatis bersifat membebaskan. Temuan ini menunjukkan bahwa studi agama dapat bersifat kritis sekaligus objektif tanpa terjerumus ke dalam aktivisme maupun klaim netralitas semu.&lt;/p&gt;
				</summary>
			
			
												<category term="Artikel" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
																<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
										
			<published>2026-06-12T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2026 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/580</id>
			<title>Biografi Penulis &amp; Daftar Mitra Bestari</title>
			<updated>2026-01-17T16:35:55+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Dodi Kurniawan</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/580" />

			
			
												<category term="Halaman Akhir" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
										
			<published>2026-01-17T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2025 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/579</id>
			<title>Susunan Redaksi</title>
			<updated>2026-01-17T16:33:07+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Dodi Kurniawan</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/579" />

			
			
												<category term="Halaman Awal" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
										
			<published>2026-01-17T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2025 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/578</id>
			<title>Pegiat Perdamaian</title>
			<updated>2026-01-17T16:20:02+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Semy Arayunedya</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/578" />

							<summary type="html" xml:base="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/578">
										&lt;p&gt;Studi perdamaian dan agama tidak dapat dilepaskan dari kajian politik karena sebagian besar kita hidup di negara atau komunitas politik, yaitu komunitas yang mengikat warga negara dan pemerintah yang setidaknya bertujuan menegakkan dan memelihara keadilan. Dengan kata lain, para pegiat perdamaian akan bersinggungan dengan politik, baik itu di tingkat operasionalisasi maupun ideologinya. Yang pertama bermuara pada kebijakan publik. Pemetaan aktor dan relasi di antaranya adalah nilai plus yang diperoleh para pegiat sebagai keterampilan lanjutan. Setelahnya, ideologi merupakan hal yang mutlak dipelajari karena ialah yang menelurkan kebijakan-kebijakan yang mempromosikan perdamaian atau, sebaliknya, kekerasan.&lt;/p&gt;
				</summary>
			
			
												<category term="Editorial" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
																<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
										
			<published>2026-01-17T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2025 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/560</id>
			<title>Magna Latrocinia di Era Modern</title>
			<updated>2026-04-30T11:38:05+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Hendi</name>
				</author>
							<author>
					<name>Sugianto</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/560" />

							<summary type="html" xml:base="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/560">
										&lt;p&gt;Krisis kepercayaan publik yang diakibatkan korupsi sistemik di Indonesia menandakan adanya masalah etis yang fundamental di kalangan pejabat publik. Pendekatan reformasi kontemporer (institusional, sosio-kultural, dan perilaku) cenderung sekuler-rasionalistik dan gagal menjawab pertanyaan teleologis mengenai tujuan hakiki kekuasaan. Untuk mengisi kesenjangan fondasi moral ini, penelitian ini berpaling pada etika politik Patristik. Dengan menggunakan metode studi literatur kualitatif, artikel ini menganalisis konsep &lt;em&gt;oikonomia&lt;/em&gt; (penatalayanan) dari Basilius Agung dan &lt;em&gt;iustitia&lt;/em&gt; (keadilan) dari Agustinus dari Hippo. Hasil analisis menunjukkan &lt;em&gt;oikonomia&lt;/em&gt; Basilius mendefinisikan ulang jabatan sebagai penatalayanan bagi kaum miskin, sementara &lt;em&gt;iustitia&lt;/em&gt; Agustinus menetapkan keadilan moral sebagai syarat legitimasi negara. Sintesis keduanya menghasilkan kerangka teo-etis yang mereformasi etos pejabat publik dengan mereorientasi tujuan jabatan dari kekuasaan menjadi pelayanan dan motivasi dari cinta diri menjadi cinta akan keadilan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kerangka Basilian-Agustinian menawarkan fondasi etika kebajikan yang melengkapi pendekatan reformasi yang ada dengan menggeser fokus dari sekadar “pejabat bersih” menuju “pejabat luhur” yang berintegritas moral.&lt;/p&gt;
				</summary>
			
			
												<category term="Artikel" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
																<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
										
			<published>2026-04-30T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2026 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/553</id>
			<title>Mazmur dan Teologi Tanah</title>
			<updated>2025-12-17T15:14:51+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Dwi Maria Handayani</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/553" />

							<summary type="html" xml:base="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/553">
										&lt;p data-start=&quot;111&quot; data-end=&quot;574&quot;&gt;Isu agraria merupakan problem struktural serius di Indonesia, terutama praktik mafia tanah yang melibatkan perampasan tanah adat, manipulasi sertifikat, dan kolusi kekuasaan. Dalam konteks ini, Kitab Mazmur menawarkan refleksi teologis yang relevan untuk mengkritik ketidakadilan agraria. Artikel ini menganalisis tema tanah pada beberapa perikop kunci—Mazmur 24:1, 37:11, 65:9–13, 85:12–13, 19:1–4, 104, 79, dan 137—dengan pendekatan teologi biblika. Studi ini menemukan bahwa tanah dalam Mazmur dipahami bukan sebagai komoditas, melainkan anugerah Allah yang harus dikelola adil, diwariskan kepada kaum lemah, dan dijaga kesuburannya. Perspektif ini menghadirkan kritik profetis terhadap praktik mafia tanah yang menyalahi prinsip keadilan, merampas hak masyarakat kecil, dan merusak ekologi. Dengan menempatkan Mazmur sebagai suara doa, ratapan, dan harapan, artikel ini mengusulkan peran aktif gereja dan teologi publik dalam advokasi keadilan agraria dan menegaskan bahwa perlawanan terhadap mafia tanah merupakan panggilan iman untuk memelihara tanah sebagai milik Allah dan sumber kehidupan bersama.&lt;/p&gt;
				</summary>
			
			
												<category term="Artikel" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
																<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
										
			<published>2025-12-17T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2025 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/530</id>
			<title>&quot;Busuk dan Jijik Perbuatan Mereka&quot;:</title>
			<updated>2025-12-12T15:23:35+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Laura Precious Bless</name>
				</author>
							<author>
					<name>Karel Karsten Himawan</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/530" />

							<summary type="html" xml:base="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/530">
										&lt;p style=&quot;font-weight: 400;&quot;&gt;Keyakinan agama sering kali terkait dengan respons emosional, khususnya terhadap stimulus yang dianggap najis atau menyimpang secara moral. Cara individu menginternalisasi ajaran agama dapat membentuk cara mereka mengalami emosi, seperti rasa jijik. Penelitian ini mengkaji pengaruh orientasi religius–baik intrinsik maupun ekstrinsik– terhadap sensitivitas terkait emosi jijik pada orang dewasa di wilayah Jabodetabek. Untuk mengeksplorasi hal ini, sebanyak 375 partisipan (&lt;em&gt;M&lt;/em&gt;&lt;sub&gt;usia &lt;/sub&gt;= 32.18, &lt;em&gt;SD&lt;/em&gt; = 2.82) direkrut melalui metode &lt;em&gt;snowball&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;purposive sampling&lt;/em&gt;, serta mengisi survei daring. Orientasi religius diukur menggunakan Religious Orientation Scale (ROS), sedangkan sensitivitas terhadap rasa jijik diukur dengan Three Domains of Disgust Scale (TDDS). Hasil analisis menunjukkan bahwa orientasi religius ekstrinsik secara signifikan memprediksi tingkat sensitivitas jijik yang lebih tinggi dan hubungan ini lebih kuat ditemukan pada partisipan perempuan. Temuan ini menunjukkan bahwa individu yang menjalani agama untuk tujuan instrumental atau sosial cenderung menunjukkan reaktivitas emosional yang lebih tinggi terhadap stimulus yang membangkitkan rasa jijik dengan perbedaan gender yang menunjukkan sensitivitas lebih kuat pada perempuan.&lt;/p&gt;
				</summary>
			
			
												<category term="Artikel" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
																<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
										
			<published>2025-12-12T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2025 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/537</id>
			<title>Kebijakan Teknologi Reproduksi dengan Bantuan di Indonesia</title>
			<updated>2025-11-24T11:08:44+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Denni Boy Saragih</name>
				</author>
							<author>
					<name>Arlina Permatasari Wiguna</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/537" />

							<summary type="html" xml:base="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/537">
										&lt;p&gt;Artikel ini membahas isu etis dan teologis dari praktik &lt;em&gt;in vitro fertilization&lt;/em&gt; (IVF) dalam konteks Peraturan Menteri Kesehatan No. 2 Tahun 2025 tentang Kesehatan Reproduksi. Teknologi ini banyak digunakan, termasuk oleh umat Kristen, tetapi menimbulkan pertanyaan moral, khususnya terkait status embrio, penyimpanan embrio beku, dan pemusnahannya. Dengan pendekatan kualitatif, yaitu analisis normatif-komparatif, artikel ini menganalisis isi permenkes itu dari perspektif teologi Kristen, serta membandingkannya dengan kebijakan di Jerman yang menekankan perlindungan embrio. Diskusi teologis mencakup tiga pendekatan terhadap status moral embrio: nonpersonal, prapersonal, dan personal. Artikel ini menekankan pandangan personal yang menyatakan bahwa kehidupan manusia dimulai sejak pembuahan. Artinya, sejak awal embrio sudah merupakan gambar dan rupa Allah (&lt;em&gt;Imago Dei&lt;/em&gt;) dan harus diperlakukan secara bermartabat. Artikel ini mengusulkan sikap etis bagi umat Kristen, yakni: menghasilkan embrio sesuai kebutuhan, menghindari penyimpanan embrio beku, menolak pemusnahan embrio, dan memaknai anak sebagai buah kasih dalam pernikahan. Tulisan ini diharapkan menjadi panduan etis-teologis bagi gereja untuk merespons teknologi IVF secara kontekstual dan bertanggung jawab.&lt;/p&gt;
				</summary>
			
			
												<category term="Artikel" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
																<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
										
			<published>2025-11-24T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2025 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/532</id>
			<title>Teologi Kematian Berdasarkan Perspektif Antropologi-Metafisika bagi Tradisi Ritual Kematian Toraja dan Jawa</title>
			<updated>2025-10-31T17:55:53+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Daniel Fajar Panuntun</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/532" />

							<summary type="html" xml:base="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/532">
										&lt;p&gt;Tulisan ini bertujuan untuk merancang teologi kematian dari perspektif antropologi-metafisika sehingga diharapkan dapat menjadi rujukan preservasi tradisi ritual kematian di Indonesia, terkhusus tradisi ritual kematian orang Toraja dan Jawa. Tujuan tersebut penting karena adanya kecenderungan tradisi kekristenan di Indonesia yang mengalienasi budaya lokal. Demi mencapai tujuannya, tulisan ini menggunakan pandangan utama dari Gijsbert van den Brink yang kemudian dianalisis secara konstruktif melalui pandangan Tibor Horvath, Robert Setio, Ebenhaizer I Nuban Timo, dan Jürgen Moltmann. Hasilnya, teologi kematian &lt;em&gt;posse mori in&lt;/em&gt; &lt;em&gt;posse non mori&lt;/em&gt; dapat menjadi solusi terhadap preservasi tradisi ritual kematian orang Toraja dan Jawa.&lt;/p&gt;
				</summary>
			
			
												<category term="Artikel" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
																<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
										
			<published>2025-10-31T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2025 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/523</id>
			<title>Kristologi Pangala Tondok</title>
			<updated>2025-10-30T14:02:19+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Frans Paillin Rumbi</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/523" />

							<summary type="html" xml:base="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/523">
										&lt;p&gt;Diskursus tentang Kristologi Pangala Tondok dimulai seiring dengan keputusan Gereja Toraja yang menerima istilah Tongkonan Sangullele sebagai identitas kultural-religiusnya. Penelitian ini bermaksud mendialogkan Kristologi Pangala Tondok dengan konteks Toraja yang multireligius (interdenominasi gereja dan antaragama). Dalam upaya tersebut, peneliti melakukan kajian pustaka dan menganalisis data dengan pendekatan kontekstual model sintesis dari Stephen B. Bevans. Hasil penelitian memperlihatkan pada konteks interdenominasi gereja dapat dilakukan dengan menempatkan Yesus Kristus sebagai Pangala Tondok baru. Sementara itu, dalam hubungan antarumat beragama, Gereja Toraja ditantang untuk mempromosikan keterbukaan, keramahan, dan persahabatan.&lt;/p&gt;
				</summary>
			
			
												<category term="Artikel" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
																<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
										
			<published>2025-10-30T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2025 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/543</id>
			<title>Mendekolonisasi Agama</title>
			<updated>2025-08-12T13:27:09+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Siti Sarah Muwahidah</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/543" />

							<summary type="html" xml:base="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/543">
										&lt;p&gt;Biner yang dipersepsikan antara &quot;agama-agama dunia&quot; dan tradisi-tradisi pribumi merupakan konstruksi kolonial. Editorial ini menegaskan bahwa pembongkaran kerangka oposisional ini penting untuk mendekolonisasi agama dan memungkinkan percakapan konstruktif dengan episteme maupun praktik lokal dan indigenos. Kelima artikel dalam edisi ini menunjukkan keterlibatan dengan praktik-praktik lokal dan pengetahuan indigenos menciptakan ruang bagi ketahanan, relasionalitas, dan pengelolaan ekologi. Pendekatan dekolonial semacam itu menawarkan kerangka kerja krusial untuk merespons permasalahan global kontemporer, termasuk krisis iklim, prekariat ekonomi, dan ketidakadilan sistemik. Pada akhirnya, editorial ini menyerukan praksis keagamaan yang lebih holistik dan imajinasi sosio-etika alternatif.&lt;/p&gt;
				</summary>
			
			
												<category term="Editorial" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
																<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
										
			<published>2025-08-12T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2025 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/541</id>
			<title>Riwayat Penulis, Mitra Bestari, &amp; Panduan Penulisan</title>
			<updated>2025-08-06T16:07:46+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Dodi Kurniawan</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/541" />

			
			
												<category term="Halaman Akhir" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
										
			<published>2025-08-06T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2025 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/540</id>
			<title>Dewan Penyunting &amp; Daftar Isi</title>
			<updated>2025-08-06T15:32:00+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Dodi Kurniawan</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/540" />

			
			
												<category term="Halaman Awal" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
										
			<published>2025-08-06T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2025 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/531</id>
			<title>Teologi Kontekstual-Transformatif I Wayan Mastra dalam Pengembangan Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) dari 1970-an sampai 1990-an</title>
			<updated>2025-08-07T17:32:46+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Amos Sukamto</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/531" />

							<summary type="html" xml:base="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/531">
										&lt;p&gt;Studi ini mengkaji model teologi kontekstual-transformatif yang dikembangkan oleh I Wayan Mastra dalam revitalisasi Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) antara dekade 1970–1990-an. Dengan menggunakan metode sejarah, hasil kajian menunjukkan bahwa transformasi teologi kontekstual ke dalam praksis memerlukan kehadiran pemimpin yang membumi dan reflektif dalam konteksnya. Pemimpin demikian ditandai oleh tiga kualitas utama: pertama, kepekaan eksistensial terhadap konteks sosial yang digeluti, sebagaimana dimaknai dalam konsep &lt;em&gt;conscientization&lt;/em&gt; menurut Paulo Freire; kedua, kesiapan untuk ditempa melalui “kawah candradimuka”—baik dalam ranah akademik maupun nonakademik—yang menghasilkan pribadi yang wasis, terbuka, kritis, dan praktis; serta ketiga, dorongan batiniah yang berakar pada bela rasa (&lt;em&gt;splagcnizomai&lt;/em&gt;) yang menggerakkan pemimpin untuk bertindak secara konkret di tengah realitas krisis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kerangka kerja metodologi yang dikembangkan Mastra menunjukkan pendekatan sistematis dan visioner. Dimulai dari identifikasi akar masalah, lahirlah visi transformatif melalui (1) perumusan nilai dasar sebagai katalis transformasi sosial; (2) pembaruan teologis melalui dekolonisasi hermeneutis; dan (3) praksis holistik yang menyentuh aspek kerohanian, kebudayaan, pendidikan, serta ekonomi. Implementasi praksis mencakup kontekstualisasi Injil, penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan vokasional dan formal, serta pemberdayaan ekonomi warga jemaat berbasis potensi lokal. Dengan demikian, model teologi ini tidak hanya bersifat reflektif, melainkan juga operasional dalam memperjuangkan keutuhan manusia dan pembebasan komunitas.&lt;/p&gt;
				</summary>
			
			
												<category term="Artikel" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
																<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
										
			<published>2025-08-06T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2025 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/524</id>
			<title>Studi Komparatif Hukum Taurat dan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 2 Tahun 2015 tentang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga</title>
			<updated>2025-08-04T16:43:39+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Ferdi Toding Bunga</name>
				</author>
							<author>
					<name>Dwi Maria Handayani</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/524" />

							<summary type="html" xml:base="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/524">
										&lt;p&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: 400;&quot;&gt;Pekerja rumah tangga (PRT) merupakan salah satu kelompok kerja yang paling rentan mengalami eksploitasi dan kekerasan struktural dalam masyarakat modern. Meskipun Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) No. 2 Tahun 2015 telah menetapkan perlindungan dasar bagi PRT, perlindungan hukum tersebut belum memiliki kekuatan hukum yang memadai. Kondisi ini semakin buruk karena Rencana Undang-Undang (RUU) Perlindungan PRT belum juga disahkan, meski telah tertunda sejak 2004 (lebih dari 20 tahun). Di sisi lain, Hukum Taurat dalam Alkitab mengandung pengaturan terhadap budak. Meskipun berakar pada sistem sosial kuno, ia memuat prinsip-prinsip keadilan dan belas kasih yang radikal untuk zamannya. Dengan demikian, artikel ini menyajikan perbandingan antara pengaturan mengenai budak dalam Hukum Taurat dengan regulasi modern terkait PRT melalui pendekatan etika teologis. Tujuan utama dari kajian ini adalah untuk menunjukkan bahwa prinsip-prinsip, seperti pembebasan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan perlindungan terhadap kelompok rentan yang terdapat dalam Hukum Taurat, dapat menjadi landasan reflektif perjuangan keadilan sosial bagi PRT di Indonesia. Di samping itu, kajian ini menekankan signifikansi tentang reformasi sistem kerja-domestik secara struktural dan spiritual melalui pendekatan iman yang transformatif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
				</summary>
			
			
												<category term="Artikel" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
																<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
										
			<published>2025-08-04T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2025 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/516</id>
			<title>Melampaui Cerita-Cerita Kematian di Kalangan Abangan</title>
			<updated>2025-07-28T13:03:11+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Yuniar Galuh Larasati</name>
				</author>
							<author>
					<name>Henky Fernando</name>
				</author>
							<author>
					<name>Leanne Morin</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/516" />

							<summary type="html" xml:base="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/516">
										&lt;p&gt;Penelitian ini mengkaji konstruksi mitos kematian melalui konsep-konsep eskatologis dalam kepercayaan religius komunitas Abangan Jawa, sebuah kelompok subkultural yang memiliki orientasi keagamaan sinkretik yang berakar pada tradisi Kejawen. Permasalahan utama yang diangkat adalah kurangnya perhatian akademik terhadap narasi eskatologis yang bersifat lokal. Padahal, narasi tersebut membentuk penafsiran alternatif mengenai kematian yang kerap terpinggirkan oleh paradigma keagamaan yang dominan. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan studi kasus, penelitian ini berpijak pada kerangka teori eskatologi dan religiositas untuk menganalisis cara komunitas Abangan membentuk makna atas kematian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kematian tidak semata-mata dipahami sebagai akhir kehidupan yang bersifat personal atau moral, melainkan dimaknai sebagai hasil dari dinamika sosial-keagamaan yang lebih luas, kondisi lingkungan, serta interaksi dengan entitas nonfisik. Penafsiran-penafsiran ini merepresentasikan suatu epistemologi yang khas dan menantang wacana teologis normatif sekaligus menegaskan validitas pandangan spiritual lokal. Studi ini memberikan kontribusi terhadap kajian eskatologi dengan menyoroti kekayaan interpretatif dalam sistem kepercayaan lokal serta mengkritik marginalisasi pengetahuan religius dalam diskursus akademik dan teologis yang lebih luas.&lt;/p&gt;
				</summary>
			
			
												<category term="Artikel" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
																<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
										
			<published>2025-07-28T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2025 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/511</id>
			<title>Agama Konghucu adalah Agama</title>
			<updated>2025-07-28T13:03:11+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Lemuel Christandi</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/511" />

							<summary type="html" xml:base="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/511">
										&lt;p&gt;Penelitian ini merupakan studi tentang pembentukan identitas Agama Konghucu selama Orde Baru dalam publikasi komunitas Agama Konghucu (Gentrika dan Genta Rohani). Sebagaimana identitas bersifat relasional, proses konstruksi identitas melibatkan identifikasi diri dan persepsi orang lain (dalam hal ini agama lain dan pemerintah). Meskipun pemerintah melakukan pengawasan ketat terhadap pers dan media selama Orde Baru, Gentrika dan Genta Rohani tetap terus terlibat mengonstruksi identitas Agama Konghucu. Dengan menggunakan Analisis Wacana Kritis dari Fairclough sebagai metodologi penelitian, artikel ini bertujuan untuk menelisik konstruksi wacana identitas Agama Konghucu dalam berbagai publikasi komunitas Konghucu yang dipublikasi dan didistribusi selama Orde Baru. Adapun, artikel ini menggunakan perspektif Bourdieu tentang bahasa dalam relasi kuasa dan diintegrasikan ke dalam metodologi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media Konghucu memainkan peran penting sebagai agen dan media dalam proses konstruksi melalui praktik-praktik penggunaan bahasa tertentu.&lt;/p&gt;
				</summary>
			
			
												<category term="Artikel" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
																<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
										
			<published>2025-05-28T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2025 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/482</id>
			<title>Leuit Badui</title>
			<updated>2025-07-28T13:03:12+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Kiki Hakiki</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/482" />

							<summary type="html" xml:base="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/482">
										&lt;p&gt;Artikel ini menelaah &lt;em&gt;leuit&lt;/em&gt; sebagai simbol estetika, ketahanan pangan, dan spiritualitas dalam masyarakat Badui di Banten. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk menggali peran multifungsi &lt;em&gt;leuit&lt;/em&gt; dalam kehidupan budaya dan sehari-hari masyarakat Badui secara mendalam. Tujuan utama penelitian ini adalah menganalisis fungsi &lt;em&gt;leuit&lt;/em&gt; yang tidak hanya sebagai lumbung padi, tetapi juga sebagai representasi estetika dan pusat spiritualitas. Metodologi yang digunakan mencakup pendekatan kualitatif melalui observasi langsung, wawancara mendalam, serta studi literatur guna mendapatkan data yang menyeluruh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa &lt;em&gt;leuit&lt;/em&gt; memiliki peran penting dalam ketahanan pangan masyarakat Badui melalui penyimpanan yang berkelanjutan dan efisien. Selain itu, &lt;em&gt;leuit&lt;/em&gt; juga mengandung makna spiritual yang mendalam dan berfungsi sebagai simbol identitas budaya Badui. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya pelestarian &lt;em&gt;leuit&lt;/em&gt; sebagai bagian dari warisan budaya yang mendukung keberlanjutan komunitas Badui serta memberikan wawasan mengenai kontribusi praktik budaya tradisional dalam menghadapi tantangan global.&lt;/p&gt;
				</summary>
			
			
												<category term="Artikel" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
																<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
										
			<published>2025-04-30T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2025 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/501</id>
			<title>Riwayat Penulis, Mitra Bestari, Panduan Penulisan</title>
			<updated>2024-12-31T11:51:35+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Sharon Budihardjo</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/501" />

			
			
												<category term="Halaman Akhir" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
										
			<published>2024-12-31T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2024 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/500</id>
			<title>Dewan Penyunting &amp; Daftar Isi</title>
			<updated>2024-12-31T11:44:00+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Sharon Budihardjo</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/500" />

			
			
												<category term="Halaman Awal" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
										
			<published>2024-12-31T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2024 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/480</id>
			<title>Pengaruh Elemen Eksternal terhadap Pengambilan Keputusan Manusia </title>
			<updated>2024-12-27T09:01:11+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Yohannes Bramanda Ryan Kharisma</name>
				</author>
							<author>
					<name>Indra Tanureja</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/480" />

							<summary type="html" xml:base="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/480">
										&lt;p style=&quot;font-weight: 400;&quot;&gt;&lt;em&gt;Tulisan ini merupakan analisis terhadap dua teks penting dalam dua tradisi budaya, yaitu kisah “Kejatuhan” dalam pasal 3 kitab Kejadian pada tradisi Yahudi-Kristen dan “Sang Durjodana Arsa Ngasoraké Pandawa sarana Prang Dadu” dalam epos Mahabharata pada tradisi Jawa, Sadjarah Pandawa Korawa, karya Raden Tanojo. Penyandingan kedua teks ini menggunakan metode karakterisasi yang berfokus pada perkataan dan tindakan yang dilakukan oleh ular dan Sengkuni sebagai representasi dari unsur eksternal yang mampu memengaruhi tindakan manusia. Keduanya digambarkan sebagai sosok yang cerdas dan licik, serta menggunakan kelicikannya untuk menggoda tokoh lain, Hawa dan Yudhistira, untuk berbuat dosa atau kesalahan. Selain itu, pembacaan teks Kitab Kejadian dapat memberikan perspektif bahwa tidak semua hal harus berakhir dengan peperangan dan kekerasan dalam Mahabharata. Di samping itu, teks Mahabharata dapat memberikan perspektif bahwa manusia harus berani menanggung kesalahannya, alih-alih berlari dan bersembunyi seperti yang diceritakan dalam Kitab Kejadian.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
				</summary>
			
			
												<category term="Artikel" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
																<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
										
			<published>2024-12-27T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2024 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/472</id>
			<title>Abangan, Kejawen, dan Para Penjual Mimpi</title>
			<updated>2024-12-31T10:37:57+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Nely Rahmawati Zaimah</name>
				</author>
							<author>
					<name>Marita Ika Joesidawati</name>
				</author>
							<author>
					<name>Fatchiatuzahro</name>
				</author>
							<author>
					<name>Suwartiningsih</name>
				</author>
							<author>
					<name>Muhammad Henry Wahyudi</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/472" />

							<summary type="html" xml:base="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/472">
										&lt;p&gt;Penelitian ini membahas dinamika sosial-budaya komunitas pesisir Jawa dengan menyoroti eksistensi kepercayaan tradisional asli mereka: kejawen (&lt;em&gt;javanism&lt;/em&gt;) dengan keunikan spiritualnya dan abangan yang secara praktis mencerminkan Islam dalam bentuk sinkretis dengan budaya Jawa dan sufisme. Fokus penelitian ini mencakup enam daerah: Subang, Cirebon, Pekalongan, Rembang, Tuban, dan Pasuruan. Dengan menggunakan analisis domain Spradley, penelitian ini mendalami model spiritual dan praktik Kejawen dan Abangan, termasuk tradisi unik seperti mistisisme dan gelar budaya. Observasi partisipatif mengungkap bahwa komunitas Kejawen dan Abangan masih bertahan, mengamalkan keyakinan mereka, dan membentuk identitas komunitas yang memperkuat hubungan sosial di antara anggotanya. Ironisnya, beberapa praktik menyimpang seperti perdukunan, pelaris dan pesugihan, sering dikaitkan dengan kelompok tersebut. Temuan juga menunjukkan bahwa moderasi beragama berperan penting dalam menjaga kesinambungan tradisi, mengidentifikasi penyalahgunaan kepercayaan, serta mempromosikan harmoni. Penelitian ini memberikan wawasan tentang ketahanan budaya Jawa di tengah dinamika masyarakat kontemporer.&lt;/p&gt;
				</summary>
			
			
												<category term="Artikel" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
																<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
										
			<published>2024-12-30T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2024 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/473</id>
			<title>Tanggapan Pemuda Kristen terhadap Penalaran Kitab Suci Lintas Agama</title>
			<updated>2024-11-19T09:33:28+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Gerry Nelwan</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/473" />

							<summary type="html" xml:base="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/473">
										&lt;p&gt;Pembacaan Kitab Suci rentan terhadap penafsiran dan dapat menawarkan nilai-nilai konstruktif, tetapi juga dapat mengarah pada pengucilan diri dan tindakan yang merusak. Secara tradisional, pembacaan dan penafsiran Kitab Suci merupakan kegiatan internal di dalam setiap komunitas agama. Namun, di Yogyakarta, kegiatan Scriptural Reasoning diselenggarakan oleh Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) Indonesia yang melibatkan peserta dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat respon pemuda Kristen yang terlibat dalam kegiatan Penalaran Kitab Suci, khususnya berfokus pada bagaimana mereka menciptakan ruang yang ramah bagi kehadiran yang lain. Penelitian ini akan menggunakan metode deskriptif analitis, dengan data yang dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara dengan responden yang dipilih secara purposif, dan pengumpulan literatur dan dokumen yang relevan. Responden akan mencakup penyelenggara kegiatan Penalaran Kitab Suci dan peserta Kristen. Data akan dianalisis dengan menggunakan konsep keramahtamahan hermeneutis Marianne Moyaert. Penelitian ini menyoroti pentingnya keterbukaan hermeneutis sebagai ekspresi keramahtamahan dalam komunitas Kristen dan pentingnya menciptakan ruang untuk dialog antaragama. Pembacaan teks-teks suci juga dapat membantu mencegah potensi konflik sentimen agama berdasarkan penafsiran kitab suci.&lt;/p&gt;
				</summary>
			
			
												<category term="Artikel" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
																<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
										
			<published>2024-11-18T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2024 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/454</id>
			<title>Israel Dulu dan Kini</title>
			<updated>2024-10-29T16:56:57+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Yonky Karman</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/454" />

							<summary type="html" xml:base="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/454">
										&lt;p&gt;Umat pilihan adalah sebutan yang sering diberlakukan untuk orang Yahudi. Namun, gereja pasca-Perjanjian Baru menganggap status keumatan Israel sudah berakhir—suatu asumsi teologis yang baru dikoreksi sejak pertengahan abad ke-20. Dalam rangka itulah, artikel ini memeriksa ulang konsep umat pilihan secara alkitabiah. Bahasa Deuteronomis untuk pemilihan Israel adalah pembebasan mereka dari perbudakan Mesir untuk menjadi bangsa penyembah Yahweh (keumatan &lt;em&gt;‘ebed&lt;/em&gt;). Namun, Perjanjian Sinai menuntut Israel lebih dari itu, yakni menjadi umat yang istimewa, keumatan teladan (keumatan &lt;em&gt;s&lt;sup&gt;e&lt;/sup&gt;gullā&lt;/em&gt;). Realitas keumatan &lt;em&gt;‘ebed&lt;/em&gt; adalah tak bersyarat dan dasarnya semata-mata faktor Allah, kasih dan kesetiaan-Nya (Ul. 7:6-8). Sebaliknya, realitas keumatan &lt;em&gt;s&lt;sup&gt;e&lt;/sup&gt;gullā&lt;/em&gt; bersyarat dan dasarnya adalah faktor Israel, yakni kesungguhan mereka untuk berpegang pada perjanjian (Kel. 19:5-6) yang kemudian ternyata gagal, kecuali umat sisa. Kendati demikian, kegagalan Israel membuka jalan bagi keumatan yang diperluas, yang mengikutsertakan orang-orang non-Yahudi secara massal, sementara keselamatan massal orang Yahudi merupakan realitas eskatologis (Rm. 11:25-26).&lt;/p&gt;
				</summary>
			
			
												<category term="Artikel" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
																<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
										
			<published>2024-10-29T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2024 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/486</id>
			<title>Keadilan (Sosial) dalam Perspektif Teologi Biblika</title>
			<updated>2024-11-18T14:12:48+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Billy Kristanto</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/486" />

							<summary type="html" xml:base="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/486">
										&lt;p&gt;Perjuangan untuk menghadirkan keadilan sosial kadang dicurigai sebagai bentuk marxisme kebudayaan. Apakah pandangan seperti ini representatif dari perspektif teologi Kristen? Tentu, jawaban yang diberikan akan tergantung dari pemahaman kita tentang keadilan sosial itu sendiri. Dengan begitu, kita perlu melihat beberapa bagian Kitab Suci untuk mendapat gambaran yang lebih seimbang tentang hal ini.&lt;/p&gt;
				</summary>
			
			
												<category term="Editorial" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
																<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
										
			<published>2024-10-29T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2024 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/436</id>
			<title>Dari Logika Dominasi Menuju Logika Advokasi</title>
			<updated>2024-10-29T16:56:58+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Martinus Lelono</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/436" />

							<summary type="html" xml:base="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/436">
										&lt;p&gt;Dalam kajian tentang kewargaan di Indonesia, istilah mayoritas-minoritas telah dikenal. Tulisan ini bertujuan untuk menggugat kuasa di balik wacana mayoritas-minoritas di Indonesia. Pembicaraan tentang minoritas yang sedianya digunakan sebagai sarana advokasi sudah berubah menjadi sarana dominasi. Dalam kajian politik identitas pada paruh kedua abad ke-20, minoritas berhubungan dengan pembelaan kepada kulit hitam di Amerika Serikat, kaum LGBT, serta kelompok Indian di Amerika. Namun, dalam konteks Indonesia, pembicaraan mengenai mayoritas dan minoritas bergeser kepada soal jumlah. Mayoritas adalah kelompok masyarakat yang berjumlah banyak, sementara minoritas menunjuk kelompok yang berjumlah lebih sedikit. Wacana macam ini terjadi dalam pembicaraan tentang kewarganegaraan di Indonesia, terutama yang berlatar belakang agama sehingga agama mayoritas dan agama minoritas mulai dikenal. Dengan menggunakan metode netnografi, penelitian ini melihat berbagai kemungkinan di dalam memaknai kata minoritas di tengah masyarakat Indonesia. Penelitian pustaka ini akan menggunakan sudut pandang teori kekerasan simbolik dari Pierre Bourdieu. Dari sudut pandang ini, ditemukan bahwa wacana yang berkembang bukanlah mayoritas-minoritas melainkan peminoritasan (&lt;em&gt;minoritization&lt;/em&gt;). Tulisan ini menawarkan logika arus balik. Logika dominasi yang saat ini berkancah di dalam kata minoritas didorong untuk kembali kepada logika advokasi yang menjadi semangat asalinya.&lt;/p&gt;
				</summary>
			
			
												<category term="Artikel" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
																<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
										
			<published>2024-10-29T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2024 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/463</id>
			<title>Riwayat Penulis, Mitra Bestari, Panduan Penulisan</title>
			<updated>2024-05-22T17:11:31+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Dodi Kurniawan</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/463" />

			
			
												<category term="Halaman Akhir" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
										
			<published>2024-05-21T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2024 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/462</id>
			<title>Dewan Penyunting &amp; Daftar Isi</title>
			<updated>2024-05-22T17:10:30+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Dodi Kurniawan</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/462" />

			
			
												<category term="Halaman Awal" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
										
			<published>2024-05-21T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2024 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/457</id>
			<title>Reinterpretasi Sila Pertama Pancasila melalui Pemikiran Politik John Calvin</title>
			<updated>2024-05-30T14:43:31+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Benyamin F Intan</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/457" />

							<summary type="html" xml:base="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/457">
										&lt;p&gt;Editorial ini merupakan langkah kecil dalam upayanya untuk melakukan reinterpretasi terhadap sila pertama Pancasila dari sudut pandang pemikiran politik John Calvin. Usaha ini dilatarbelakangi oleh berbagai tindakan intoleransi beragama di Indonesia. Latar tersebut tidak dapat dipisahkan dari faktor struktural yang melingkupinya, yakni intervensi pemerintah terhadap urusan internal agama. Oleh karena itu, penafsiran ulang terhadap sila pertama sangat mendesak diperlukan karena reinterpretasi terhadap sila Ketuhanan Yang Maha Esa ini tidak hanya dapat menjamin kebebasan beragama, tetapi juga peran agama dalam ruang publik. Dengan begitu, agama dapat menjadi kekuatan pembebas yang mampu menciptakan kehidupan sosial-politik yang demokratis.&lt;/p&gt;
				</summary>
			
			
												<category term="Editorial" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
										
			<published>2024-04-30T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2024 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
							<entry>
						<id>https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/421</id>
			<title>Narasi Diskriminatif Pascakonflik pada Masyarakat Kristen</title>
			<updated>2024-05-21T15:45:15+07:00</updated>

			
							<author>
					<name>Selvone Christin Pattiserlihun</name>
				</author>
							<author>
					<name>Mohammad Iqbal Ahnaf</name>
				</author>
							<author>
					<name>Nur Rif’ah Hasaniy</name>
				</author>
						<link rel="alternate" href="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/421" />

							<summary type="html" xml:base="https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/id/article/view/421">
										&lt;p&gt;Konflik di Maluku tahun 1999 meninggalkan bekas luka yang bertahan hingga 20 tahun. Fenomena ini tercermin dalam narasi masyarakat pascakonflik secara langsung yang terdapat dalam perbincangan masyarakat sehari-hari. Selama 20 tahun bertahan di Ambon sebagai pengungsi, masyarakat Kayeli mengalami berbagai macam pengalaman (baik pengalaman kekerasan maupun damai). Perjuangan yang dihadapi pengungsi Kayeli menggambarkan kerusakan yang terjadi akibat konflik berkaitan dengan pola-pola relasi komunal sekian tahun setelah perang selesai. Kondisi ini sayangnya tidak cukup mendapat perhatian dalam kajian tentang masyarakat pascakonfik. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan perjuangan komunitas pengungsi sebagai kelompok masyarakat rentan yang hidup dengan narasi kekerasan pascakonflik di Ambon. Tulisan ini didasarkan pada data dari hasil wawancara mendalam terhadap delapan informan pengungsi Kayeli pada tahun 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman konflik yang digambarkan dalam kelompok ini menggambarkan diskriminasi dan perjuangan dalam hubungan komunal di daerah baru tempat mereka dimukimkan kembali dari desa-desa mereka yang dilanda perang. Tulisan ini menguraikan tanggapan para pengungsi terhadap narasi konflik berdasarkan keyakinan Kristen yang mereka anut. Berbagai tanggapan tersebut merupakan cara komunitas pengungsi terus menjalani kehidupannya dengan mengatasi narasi-narasi diskriminatif di komunitas baru mereka.&lt;/p&gt;
				</summary>
			
			
												<category term="Artikel" label="Bagian" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/section"/>
																<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
									<category term="Array" label="Kata Kunci" scheme="https://pkp.sfu.ca/ojs/category/keywords"/>
										
			<published>2024-05-21T00:00:00+07:00</published>

						<rights>Hak Cipta (c) 2024 Reformed Center for Religion and Society</rights>
		</entry>
	</feed>
