@article{Membangun Jembatan Kesadaran Multiiman: Sebuah Proposal Visioner dari Greja Kristen Jawi Wetan_2023, volume={10}, url={https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/article/view/406}, DOI={10.33550/sd.v10i2.406}, abstractNote={
Berhadapan dengan ketegangan dan tantangan religius dalam konteks Indonesia, Greja Kristen Jawa Wetan menggumuli pertanyaan penting: "Bagaimana gereja dapat terlibat secara efektif di tengah konteks ketegangan religius dan sosial?" Menanggapi pertanyaan tersebut, penulis berpendapat bahwa gereja dapat membangun kesadaran multiiman dengan mengadopsi model yang berakar dari tradisi Jawa, yaitu jagongan dan patuwen, yang menjadi jembatan bagi gereja untuk membangun dan meningkatkan pembelajaran multiiman secara efektif. Jagongan meragakan karakteristik komunal, sedangkan patuwen menandai kualitas personal. Melalui studi ini, penulis berargumen bahwa baik jagongan dan patuwen mencerminkan dua gerak ganda Yesus—exitus a Deo dan exitus a se—yang mencerminkan gerak Yesus keluar dari Bapa dan diri-Nya sendiri yang mengarah pada kembali dan masuknya Yesus kepada Yang Ilahi. Gereja dapat menggunakan jagongan sebagai undangan kepada pelbagai individu untuk masuk dan berkumpul di ruang publik dan menggunakan patuwen sebagai strategi untuk menjangkau dan keluar ruang gerejawi demi merengkuh individu dalam ruang personal mereka. Saya akan mendemonstrasikan implementasi praktis jagongan dan patuwen sebagai ruang pembelajaran multiiman yang membangun kesadaran keadilan sosial di dalam gereja, yang disajikan melalui kemasan Festival Iman. Akhirnya, penulis menyimpulkan bahwa jagongan dan patuwen dapat mengedepan sebagai model yang memiliki daya untuk menjembatani dan memperkaya kesadaran multiiman gereja, inklusivitas, dan keadilan sosial dalam lanskap keragaman iman.
}, number={2}, journal={Societas Dei: Jurnal Agama dan Masyarakat}, year={2023}, month={Nov}, pages={185–207} }