@article{Menilai Islamisme, Pembangunan Perdamaian, dan Dialog Antariman di Papua, Indonesia_2024, volume={11}, url={https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/article/view/397}, DOI={10.33550/sd.v11i1.397}, abstractNote={
Hubungan Islamisme, pembangunan perdamaian, dan dialog antaragama di Papua adalah topik penting untuk dijelaskan karena studi tentang dinamika dan hubungan tersebut belum tersedia secara luas. Oleh karena itu, artikel ini menganalisis hubungan yang kompleks antara islamisasi, pembangunan perdamaian, dan dialog antaragama di Papua. Secara historis, sebelum kehadiran Islam transnasional, hubungan antara muslim dan Kristen harmonis. Mereka hidup damai. Namun, kelompok-kelompok Islam transnasional radikal seperti itu, sampai batas tertentu, telah menciptakan ketegangan dan konflik antara kedua agama ini serta friksi intraagama di antara kelompok-kelompok Islam. Selain itu, ketegangan di antara berbagai agama telah memberikan nuansa lain pada konflik separatisme yang telah berlangsung lama di Papua. Naskah akademik ini menjelaskan kehadiran kelompok transnasional, khususnya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan kelompok Salafy-Wahhaby di Papua sebelum tahun 2020-an dan bagaimana para tokoh agama di Papua, melalui Forum Kerukunan Umat Beragama atau FKUB, bekerja membangun kerukunan komunal dengan membuat Deklarasi Papua Tanah Damai [Deklarasi Tanah Damai Papua]. Selain itu, artikel ini menjelaskan kerangka dialog antaragama dan bagaimana hal itu dipraktikkan untuk menjaga kerukunan komunal di Papua. Namun, dialog antaragama masih digunakan secara tradisional di Papua dan belum menyelesaikan akar penyebab konflik agama yang ada.
}, number={1}, journal={Societas Dei: Jurnal Agama dan Masyarakat}, year={2024}, month={Apr}, pages={24–38} }