@article{Abangan, Kejawen, dan Para Penjual Mimpi: Penelusuran Kisah Lain dari The Religion of Java Clifford Geertz_2024, volume={11}, url={https://societasdei.rcrs.org/index.php/SD/article/view/472}, DOI={10.33550/sd.v11i2.472}, abstractNote={
Penelitian ini membahas dinamika sosial-budaya komunitas pesisir Jawa dengan menyoroti eksistensi kepercayaan tradisional asli mereka: kejawen (javanism) dengan keunikan spiritualnya dan abangan yang secara praktis mencerminkan Islam dalam bentuk sinkretis dengan budaya Jawa dan sufisme. Fokus penelitian ini mencakup enam daerah: Subang, Cirebon, Pekalongan, Rembang, Tuban, dan Pasuruan. Dengan menggunakan analisis domain Spradley, penelitian ini mendalami model spiritual dan praktik Kejawen dan Abangan, termasuk tradisi unik seperti mistisisme dan gelar budaya. Observasi partisipatif mengungkap bahwa komunitas Kejawen dan Abangan masih bertahan, mengamalkan keyakinan mereka, dan membentuk identitas komunitas yang memperkuat hubungan sosial di antara anggotanya. Ironisnya, beberapa praktik menyimpang seperti perdukunan, pelaris dan pesugihan, sering dikaitkan dengan kelompok tersebut. Temuan juga menunjukkan bahwa moderasi beragama berperan penting dalam menjaga kesinambungan tradisi, mengidentifikasi penyalahgunaan kepercayaan, serta mempromosikan harmoni. Penelitian ini memberikan wawasan tentang ketahanan budaya Jawa di tengah dinamika masyarakat kontemporer.
}, number={2}, journal={Societas Dei: Jurnal Agama dan Masyarakat}, year={2024}, month={Des}, pages={173–205} }